Abstract :
Di indonesia, angka stunting terbilang tinggi sekitar 21,6% pada 2022,
walaupun menurun dari 24,4% di tahun sebelumnya. Penurunanya ditargetkan
menjadi 14% sejak 2024 dengan membutuhkan usaha maksimal. Stunting
berdampak jangka pendek seperti gangguan kecerdasan, otak, metabolisme,
pertumbuhan serta periode panjang seperti penurunan imunitas tubuh, kognitif,
serta penyakit kronis di usia tua. Studi ini ingin mencermati besaran faktor risiko
kejadian stunting pada anak balita usia (7-59) bulan di Puskesmas Kahu Kab
Bone.
Studi ini berjenis survei analitik secara berpendekatan case control.
Dengan total sampel 19 balita dibagian case dan 19 balita dibagian control
yang berumur 7-59 bulan. Dengan mengandalkan instrument kuesioner serta
wawancara.
Studi ini menghasilkan jika 38 balita dengan perbandingan 1:1
menunjukkan bahwa adanya faktor risiko pemberian ASI eksklusif sebanyak
(OR=1,59 >1), kunjungan kehamilan sebenyak (OR=3,92 >1), usia melahirkan
sebanyak (OR= 3,92 >1), berat badan lahir sebanyak (OR=2,11 >1), dan risiko
riwayat penyakit infeksi sebanyak (OR=2,05 >1) pada kejadian stunting pada
balita di Puskesmas Kahu Kab Bone.
Simpulan dari studi ini yaitu adanya faktor risiko pemberian ASI
eksklusif, kunjungan kehamilan, usia melahirkan, berat badan lahir serta
riwayat penyakit infeksi pada kejadian stunting pada balita di Puskesmas Kahu
Kab Bone. Disarankan merancang upaya mencegah stunting perlu dilakukan
secara holistik, seperti edukasi, perbaikan layanan kesehatn ibu dan anak,
serta intervensi pada faktor-faktor risiko utama yang ditemukan