Institusion
Universitas Muslim Indonesia
Author
Diapaty Mayulu, Cindy Berliana
Subject
RT Nursing
Datestamp
2025-11-28 02:06:47
Abstract :
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi kronis yang
berdampak pada fungsi pernapasan dan kualitas hidup pasien. Pasien TB sering mengalami
masalah keperawatan seperti bersihan jalan napas tidak efektif, pola napas tidak efektif,
serta gangguan pola tidur akibat gejala sesak napas, batuk produktif, dan penumpukan
sekret. Intervensi nonfarmakologis seperti blowing balloon menjadi alternatif penting
dalam meningkatkan saturasi oksigen dan membantu proses pemulihan. Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan blowing balloon therapy terhadap
perubahan saturasi oksigen pada pasien Tuberkulosis di ruang Instalasi Gawat Darurat
(IGD). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus berbasis asuhan
keperawatan pada pasien Ny. S, usia 70 tahun, dengan diagnosa Tuberkulosis Paru di ruang
IGD RSUD Labuang Baji Makassar. Asuhan keperawatan meliputi pengkajian,
identifikasi diagnosa keperawatan prioritas, intervensi (teknik blowing balloon selama 15–
20 menit, dengan stabilisasi pasien selama 1 jam menggunakan oksigen sehingga SPO2
meningkat menjadi 96%), implementasi, dan evaluasi dalam waktu 1x8 jam. Pengumpulan
data dilakukan secara observasional sebelum dan sesudah intervensi. Hasil Penelitian:
Setelah dilakukan intervensi keperawatan dengan fokus pada latihan blowing balloon ,
ditemukan adanya peningkatan saturasi oksigen dari 90% menjadi 100% dengan bantuan
oksigen nasal kanula 4 L/menit. Selain itu, pasien mampu melakukan batuk efektif,
produksi dahak berkurang, dan ada perbaikan pada frekuensi napas serta kenyamanan
pernapasan. Namun, gangguan pola tidur masih dialami oleh pasien akibat keluhan batuk
dan sesak malam hari. Kesimpulan: Penerapan blowing balloon therapy dapat
meningkatkan saturasi oksigen dan memperbaiki fungsi pernapasan pada pasien
Tuberkulosis Paru.
Background: Pulmonary Tuberculosis (TB) is a chronic infectious disease that affects
respiratory function and patients’ quality of life. TB patients frequently experience
nursing problems such as ineffective airway clearance, ineffective breathing patterns, and
sleep disturbances due to symptoms including shortness of breath, productive cough, and
mucus accumulation. Non-pharmacological interventions, such as blowing balloon
therapy, represent an important alternative for improving oxygen saturation and aiding
the recovery process. Objective: This study aims to determine the effect of blowing
balloon therapy on changes in oxygen saturation among pulmonary tuberculosis patients
in the Emergency Department (ED).
Methods: This research employed a case study approach based on nursing care provided
to patient Mrs. S, a 70-year-old woman diagnosed with pulmonary tuberculosis at the ED
of RSUD Labuang Baji Makassar. Nursing care encompassed assessment, identification
of priority nursing diagnoses, intervention (blowing balloon technique for 15–20
minutes, followed by patient stabilization for 1 hour using oxygen therapy, resulting in
an SpO2 increase to 96%), implementation, and evaluation over an 8-hour period. Data
were collected observationally before and after the intervention. Results: Following the
nursing intervention focused on blowing balloon exercises, oxygen saturation improved
from 90% to 100% with the assistance of a 4 L/min nasal cannula. Additionally, the
patient demonstrated effective coughing, reduced sputum production, and improved
respiratory rate and breathing comfort. However, sleep disturbances persisted due to
nocturnal cough and dyspnea. Conclusion: The implementation of blowing balloon
therapy can effectively increase oxygen saturation and improve respiratory function in
patients with pulmonary tuberculosis.