Abstract :
Stunting atau pendek merupakan status gizi yang didasarkan pada
indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan z-score kurang dari -2 SD
(Standar Deviasi). Stunting buka hanya masalah gangguan pertumbuhan
fisik saja, namun juga mengakibatkan anak menjadi mudah sakit. Selain itu
juga terjadi gangguan perkembangan otak dan kecerdasan. Sehingga
stunting merupakan ancaman besar terhadap kualitas sumber daya
manusia di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang
berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Moncongloe Desa Lappara
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik
dengan pendekatan kuantitatif menggunakan studi cross sectional. Cross
Sectional (potong silang) adalah desain penelitian yang menekankan pada
saat pengukuran atau observasi data baik variabel independen (faktor
risiko) dan dependen (efek) yang dilakukan hanya satu kali pada satu
waktu.
Hasil penelitian ini diperoleh analisis univariate dengan persentase
jumlah balita laki-laki sebesar 46,3%, jumlah balita perempuan 53,7%.
Persentase jumlah balita stunting sebesar 27,6% dan balita tidak stunting
72,4%, status pendidikan ibu kategori tinggi 92,7% dan rendah 7,3%.
Panjang badan lahir kategori normal 95,1% dan kurang 4,9%, berat badan
lahir yang berisiko rendah BBLR 94,3% dan berisiko tinggi BBLR 94,3%,
riwayat pemberian ASI ekslusif kategori berisiko 36,6% dan tidak berisiko
63,4%. Riwayat penyakit infeksi yang tidak menderita sebesar 41,5% dan
menderita 35,1% serta jenis penyakit yang paling sering adalah ISPA.
Adapun analisis bivariat Status pendidikan ibu, Panjang badan lahir, BBLR,
tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting dimana
ρ=0,242, ρ=0,538, ρ=0,416 artinya ρ>0,05. Sedangkan Riwayat pemberian
ASI ekslusif dan Riwayat penyakit infeksi terdapat hubungan yang
bermakna dengan kejadian stunting dimana ρ=0,020 dan ρ=0,004 artinya
ρ<0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara status Pendidikan ibu, Panjang badan lahir dan BBLR dengan
kejadian stunting, maka Ha ditolak. Serta terdapat hubungan yang
xvii
bermakna antara riwayat ASI ekslusif dan Riwayat penyakit infeksi dengan
kejadian stunting, maka Ha diterima.
Diharapkan pada penelitian selanjutnya, dapat mengkaji lebih
mendalam lagi faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kejadian
stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Moncongloe Desa
Lappara.