Abstract :
Luka kaki diabetes merupakan komplikasi serius pada pasien
diabetes melitus yang sering mengalami penyembuhan terhambat akibat
gangguan vaskular, neuropati, dan risiko infeksi tinggi. Penggunaan dressing
modern seperti hidrofobik menawarkan pendekatan inovatif melalui mekanisme
fisik untuk mengikat mikroba tanpa memicu resistensi antimikroba, sehingga
berpotensi mempercepat penyembuhan luka.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh
penggunaan hidrofobik sebagai primary dressing terhadap penyembuhan luka
kaki diabetes grade 2 melalui penerapan asuhan keperawatan secara
komprehensif.
Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan menerapkan
proses asuhan keperawatan secara lengkap yang meliputi pengkajian kondisi
luka, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan intervensi, implementasi
tindakan, dan evaluasi hasil perawatan. Observasi luka dilakukan secara serial
pada tiga titik waktu (21 Juli, 15 Agustus, dan 20 Agustus 2025) dengan
menggunakan instrumen Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BJWAT).
Prosedur perawatan mencakup pembersihan luka dengan sabun antiseptik,
aplikasi PHMB untuk menurunkan beban mikroba, pemasangan dressing
hidrofobik sebagai balutan primer, serta penggunaan dressing sekunder untuk
mempertahankan kelembapan luka yang optimal. Evaluasi mencakup
pengukuran ukuran luka, persentase jaringan granulasi, slough, epitelisasi,
karakteristik eksudat, serta respons nyeri pasien. Pendekatan edukasi diberikan
untuk mendukung kepatuhan pasien dalam perawatan kaki dan pengendalian
gula darah.
Hasil: Penyembuhan luka menunjukkan perbaikan signifikan selama perawatan
dengan hidrofobik: Pada 21 Juli 2025, jaringan luka terdiri dari 40% slough, 60%
granulasi, dan epitelisasi <25%, dengan luas luka 2,5 cm². Pada 15 Agustus
2025, granulasi meningkat menjadi 90%, slough menurun menjadi sekitar 10%,
dan epitelisasi meningkat menjadi 25–<50%, dengan ukuran luka menjadi 1 cm².
Pada 20 Agustus 2025, granulasi mencapai 100%, slough 0%, epitelisasi 25-
<50%, dan ukuran luka menyusut menjadi 0,08 cm². Nyeri akut yang awalnya
dilaporkan skala 2 teratasi dalam satu sesi intervensi.
Kesimpulan: Penggunaan hidrofobik sebagai primary dressing dalam asuhan
keperawatan terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka kaki diabetes
grade 2 dengan memperbaiki kondisi luka secara objektif dan mengurangi
keluhan subjektif pasien.
Diabetic foot ulcers are a serious complication of diabetes mellitus,
often characterized by delayed healing due to vascular impairment, neuropathy,
and a high risk of infection. The use of modern dressings such as hydrophobic
dressings provides an innovative approach through a physical mechanism that
binds microorganisms without inducing antimicrobial resistance, thereby
potentially accelerating wound healing.
Objective: This study aims to identify the effect of hydrophobic dressing as a
primary dressing on the healing of grade 2 diabetic foot ulcers through the
comprehensive application of nursing care.
Methods: The study used a case study design by implementing a complete
nursing care process that includes wound assessment, nursing diagnosis
determination, intervention planning, action implementation, and evaluation of
treatment outcomes. Wound observations were conducted serially at three time
points (July 21, August 15, and August 20, 2025) using the Bates-Jensen Wound
Assessment Tool (BJWAT). Treatment procedures included wound cleansing
with antiseptic soap, application of PHMB to reduce the microbial load,
application of a hydrophobic dressing as a primary dressing, and use of a
secondary dressing to maintain optimal wound moisture. Evaluation included
measurement of wound size, percentage of granulation tissue, slough,
epithelialization, exudate characteristics, and patient pain response. An
educational approach was provided to support patient compliance with foot care
and blood sugar control.
Results: Wound healing showed significant improvement during treatment with
hydrophobic: On July 21, 2025, the wound tissue consisted of 40% slough, 60%
granulation, and <25% epithelialization, with a wound area of 2.5 cm². On August
15, 2025, granulation increased to 90%, slough decreased to approximately 10%,
and epithelialization increased to 25–<50%, with a wound size of 1 cm². On
August 20, 2025, granulation reached 100%, slough 0%, epithelialization 25–
<50%, and the wound size decreased to 0.08 cm². Acute pain initially reported as
a scale 2 resolved within one intervention session.
Conclusion: The use of hydrophobic primary dressing in nursing care proved
effective in accelerating the healing of grade 2 diabetic foot ulcers by improving
objective wound conditions and reducing the patient’s subjective complaints.