Abstract :
Kesadaran akan keterbatasan alat pengukuran kinerja keuangan muncul
sebagai implikasi bahwa perusahaan tidak dapat dipandang sebagai unit – unit
operasi yang terpisah lagi, tetapi merupakan satu kesatuan, baik dengan unit
dalam perusahaan maupun dengan lingkungan dan pelanggannya. Dengan adanya
keterbatasan seperti yang dijelaskan diatas maka, Robert S. Kaplan dan David P.
Norton mencoba melakukan pendekatan yang mengukur kinerja perusahaan
dengan berfokus pada pengukuran keuangan dan non keuangan, seperti kepuasan
konsumen, proses bisnis internal serta pertumbuhan dan pembelajaran. Gagasan
untuk menyeimbangkan pengukuran aspek keuangan dan non keuangan
melahirkan sebuah sintesa baru yang dinamakan balanced scorecard.
Menurunnya penjualan pada PT. XX selama empat tahun belakangan
diperlukan suatu alat ukur yang cukup lengkap untuk mengevaluasi. Balanced
Scorecard dipilih sebagai alat ukur karena cukup lengkap yaitu mengukur aspek
keuangan dan non keuangan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang
berasal dari data perusahan dan juga data primer seperti kepuasan pelanggan dan
kepuasan karyawan. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh, pada perspektif
keuangan kinerja perusahaan kurang baik, perspektif pelanggan buruk, perspektif
proses bisnis internal kurang baik, dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
cukup baik.