Abstract :
Dengan keinginan yang keras untuk menyamai perekonomian
Negara-negara Imperialis Barat, Jepang mencoba untuk
membalikan keadaan sebagai bangsa terjajah menjadi
bangsa yang menjajah. Jepang melakukan ekspansinya
dengan kekuatan militernya ke wilayah geopolitical
Negara Jepang antara lain: Cina, Korea dan Negara
negara Asia Tenggara, ternyata gag al. Jepang mencoba
sekali lagi ekspansinya melalui bidang ekonomi akan
tetapi terjadi kendala dalam bidang politik karena
keduanya tidak dapat dipisahkan. Perdana Menteri Jepang
yang ke-42 yaitu mencoba mengganti kebijakan Perdana
Menteri Yoshida Shigeru "Seikei Bunri" dengan kebijakan
yang berdimensi cultural "kokoro to kokoro", pendekatan
yang tidak memikirkan ekonomi saja melainkan memikirkan
juga saling pengertian
(tepo seliro). Kebijakan ini
menjadi awal bagi Jepang menjadi mitra terdekat dalam
kerjasama ekonomi di wilayah Asia dan Asia Tenggara
khususnya dan Dunia umumnya.