Abstract :
Halusinasi merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa yang memiliki
resiko melakukan bunuh diri dan merupakan kondisi dimana seseorang kesulitan
membedakan antara nyata dan tidak nyata. Kasus halusinasi tersebut banyak
terjadi kekambuhan sehingga penulis menyusun strategi pelaksanaan intervensi
pemahaman obat dimana salah satu implementasi yang diterapkan untuk
mengatasi masalah keperawatan gangguan persepsi sensori: halusinasi
pendengaran berupa pemahaman obat. Karena masalah keperawatan ini sering
muncul kekambuhan yang berulang dan disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien
tentang konsumsi terapi obatnya.
Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai pengelolaan
pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi melalui penerapan strategi
pelaksanaan dengan intervensi pemahaman obat pada pasien halusinasi di Soerojo
Hospital.
Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif, yang mana
menggambarkan keseluruhan proses pengelolaan gangguan persepsi sensori:
halusinasi yang berulang dengan menekankan implementasi pemahaman obat.
Proses pengelolaan dilakukan selama empat hari dengan menggunakan proses
keperawatan. Proses keperawatan terdiri atas pengkajian keperawatan, diagnosa
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi
keperawatan.
Hasil pengelolaan didapatkan pasien dengan halusinasi yang berulang
muncul halusinasinya dikarenakan adanya masalah perasaan pasien yang merasa
sudah sembuh atau belum mematuhi tentang minum obat. Implementasi yang
dilakukan pada pasien tentang obat, maka pasien semakin paham tentang manfaat
obat, akibat tidak minum obat, efek samping obat, syarat berhenti minum obat,
dan pemahaman obat sebagai syarat pulang telah tercapai. Pasien sudah terlihat
tenang, mampu mandiri dalam mengkonsumsi obat serta bisa mengontrol
halusinasinya dengan apa yang sudah bisa dan tetap mengkonsumsi obat sampai
ada keputusan dari dokter bahwa harus berhenti maupun mengurangi dosis obat.
Bagi perawat Soerojo Hospital khususnya pada pasien yang mau pulang
dan sering mengalami kekambuhan karena masalah obat, harus tetap ditegaskan
untuk syarat berhenti minum obat dan motivasi minum obat.